Beranda Riau Dumai Diduga Ilegal, Aktivitas Tambang Pasir Merusak Jalan Gang Beringin

Diduga Ilegal, Aktivitas Tambang Pasir Merusak Jalan Gang Beringin

62
BERBAGI

DUMAI (TN) – Akibat sering dilalui kendaraan bertonase tinggi berjenis dumptruck dengan muatan, jalan yang berada di Gang Beringin, Jalan Tuanku Tambusai, Kelurahan Bukit Timah, Kecamatan Dumai Selatan, mengalami kerusakan.

Tak hanya berlubang dan bergelombang, keberadaan besi beton pada badan jalan pun sampai terlihat jelas.

Warga pun berinisiatif untuk meletakkan satu vas besar yang berisikan tanaman untuk menutupi jalan rusak demi mencegah terjadinya kecelakaan bagi para pengendara roda dua maupun roda empat.

Dari hasil penelusuran teleskopnews selama dua hari, memang banyak ditemukan puluhan dumptruck dengan memuat tanah timbun yang diduga hasil galian c ilegal wara-wiri keluar masuk gang tersebut.

Diketahui tanah timbun itu merupakan hasil dari praktik galian c atau tambang pasir yang diduga tak mengantongi izin.

Media ini pun melakukan pencarian informasi yang dimulai pada Senin, 15 November 2021 sekiranya pukul 14.45 WIB.

Salah satunya warga setempat, sebut saja namanya Fulan. Dikatakan Fulan, kerusakan jalan yang didanai oleh APBD Kota Dumai tahun anggaran 2009 itu mencapai 500 meter dari awal masuk Gang Beringin hingga menuju lokasi galian.

“Berarti jaraknya cukup dekat dengan permukiman warga. Dan galian c ini milik seseorang berinisial ER,”begitu penuturan dia kepada media ini.

Dikatakan dia, warga setempat tidak mengetahui kapan pastinya terjadi aktivitas itu namun diperkirakan beberapa tahun belakangan ini.

“Sekitar tiga sampai empat tahun kayaknya, namun kita juga kurang tahu pasti. Mereka (pengusaha) tidak berkoordinasi dahulu dengan warga,”timpalnya lagi.

Padahal salah satu persyaratan untuk mendapatkan perizinan tambang pasir adalah surat persetujuan dari warga yang dilampirkan kepada pihak kelurahan kemudian diteruskan ke kecamatan sebagai rekomendasi ke dinas terkait dalam hal ini Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Dumai.

“Seharusnya mereka (pengusaha galian c) memberi tahu dan minta izin kepada kami,”katanya bercerita.

Akibat kegiatan itu, tak hanya kondisi fisik akses saja yang mereka rusak melainkan sejumlah dampak lainnya ikut berimbas, terutama lingkungan.

“Banyak bahaya yang setidaknya mengancam kepada kami, mulai dari kebisingan suara, debu yang beterbangan, nah.. yang paling kita takutkan tanah longsor akibat digali terus. Belum lagi memasuki musim hujan begini, jalan yang rusak dipenuhi genangan air,”katanya.

Senada disampaikan warga lainnya, Fulana. Menurut dia, warga terkesan diam dikarenakan ada sejumlah pemuda tempatan ikut bekerja di tambang pasir itu.

“Jadi kami mau protes juga serba salah, karena ada juga pemuda dekat sini bekerja di situ, meskipun mereka juga bawa tenaga kerja dari luar (Dumai). Makanya kami diam, meskipun kami sudah resah dan capek dengan kegiatan mereka,”ucapnya kesal.

Baginya hal ini harus secepatnya ditindak oleh aparatur terkait, tapi sepertinya kegiatan mereka sengaja diabaikan.

“Kita ingin seluruh tim gabungan, mulai dari Pemko Dumai, TNI, Polres turun untuk menindak mereka. Tapi sepertinya yang kita harapkan tak sesuai kenyataan, mereka terkesan adanya pembiaran,”akunya geram.

Mendengar pengakuan warga, pencarian informasi dilanjutkan keesokan harinya pada Selasa, 16 November 2021, sekiranya pukul 15.01 WIB. Media ini langsung menuju lokasi tambang pasir itu.

Benar saja aktivitas galian c memang ada. Sebab bukan tanpa alasan, tampak satu unit alat berat jenis excavator beko tengah melakukan penggalian tanah dan memindahkan material ke satu persatu dumptruck yang tengah mengantre.

Saat ditanya kepada salah satu pekerja yang mengaku petugas keamanan wilayah galian dengan raut wajah tak bersahabat dan tak berbaju itu membenarkan adanya kegiatan tersebut.

Dia mengaku jika galian c itu baru saja berjalan setelah sekian lama tak beroperasi.

Dia beralasan, alat berat yang dimiliki pengusaha tambang pasir itu sempat mengalami rusak.

“Benar, kami baru saja mulai (galian c), karena alat berat di lokasi lahan sebelumnya sudah tidak jalan lagi akibat rusak, jadi kami pindah lokasi sebelahnya,”sebutnya dengan nada ketus.

Namun pria itu menegaskan, untuk tidak mengusik kegiatan tersebut.

“Jangan ganggu kami. Kami cari makan di sini,”tegasnya singkat.(tim,)